Menembus Bara Malapetaka | Revolusi Suriah
Home » , , » Menembus Bara Malapetaka

Menembus Bara Malapetaka

MENEMBUS BARA MALAPETAKA |
 
Saya baru saja kembali ke markas Mujahidin, tempat Misi Medis Suriah dan Indonesyam tinggal. Seperti yang sudah-sudah, tempat kerja kami meliputi beberapa daerah Suriah, baik medan perang maupun wilayah aman, dan khusus untuk tempat tinggal selalu markas Mujahidin karena memang dengan izin Allah tidak ada tempat aman di Suriah kecuali di situ.

Pengalaman tiga tahun dari ribuan relawan Suriah baik muslim maupun non muslim yang membantu kaum muslimin, membuktikan bahwa peluru Syiah, roket serta bomnya tidak membedakan mana pekerja kemanusiaan mana serdadu. Bahkan dokter sekalipun mereka culik atau bunuh di tempat. Seperti yang baru-baru saja terjadi pada dr. Abbas Khan, dokter muda muslim asal Inggris keturunan Pakistan yang diculik dari rumah sakit kemudian ditahan hampir satu tahun dan dikembalikan tinggal jenazah dengan banyak bekas penyiksaan.

Perjalanan kembali dari Bara cukup menegangkan, hanya empat orang pada dua kendaraan. 1 mobil pengawal berisi sang komandan dan pengawal, 1 ambulance yang saya kemudikan bergantian dengan seorang Mujahidin belia. Sebagian Mujahidin yang tadinya mengawal sang komandan telah dikirim ke Atmeh, dan Abu Mahmoud jurnalis Inggris itu kini menetap di Bara.

Sepanjang hari, gerimis mengguyur bumi Suriah mulai pagi sampai menjelang maghrib. Jalan yang basah menjadi licin, laju mobil menjadi sulit dikendalikan karena sepertinya air tetesan salju juga turun sebelum kami melaluinya.

Giliran pertama, kendali supir diambil oleh sang Mujahidin belia kawan saya yang cukup ahli berkelak-kelok sepanjang jalan, yang kadang berlubang-lubang bekas hantaman roket, kadang mulus seperti pipi orang-orang Suriah. Sedan pengawal berkali-kali maju-mundur-ke belakang-ke depan ambulance. Isyarat-isyarat kewaspadaan diulang-ulang dari mobil pengawal melalui radio pemanggil.

" Pelan bro ! di depan itu mungkin ada jebakan !"
" Ya, lanjut ! InsyaAllah aman !"
" Percepat ! mungkin mobil belakang kita ini penguntit !"

Demikian sepanjang jalan. Sesekali ditimpali candaan yang lumayan bikin ngakak, semacam seorang Mujahidin yang ingin nikah dengan orang Indonesia, karena katanya kita ini hitam manis macam kismis.

Menjelang tiba di kedua daerah Syiah yang kemarin kami lewati, sang pengawal meminta mobil berhenti. Kedua supir turun dan bicara di belakang. Saya tidak boleh turun. Selesai rapat singkat dadakan itu, kemudi ambulance mereka serahkan pada saya dan seorang Mujahidin lainnya pindah ke ambulance. Komposisi menjadi 3 orang dalam ambulance dan 1 dalam sedan

Waktu saya mau injak gas, seorang pejuang menyuruh pelan saja tunggu aba-aba dari mobil sedan. Kemudian sedan tersebut melesat kencang sekali mendahului kami dan berhenti pada sebuah tikungan jauh di depan

Terdengar dari radio panggil komando supaya mobil melaju pelan

" Pelan..."
" Pelan..."
" Pelan..."
" Pelan..."

Dan mendadak ...

"YAllah ! YAllah ! Sur'ah ! Sur'ah ! Intabih ! Intabih !"

Antara kaget dan bingung, ono opo iki ?! Saya injak gas dalam-dalam

"Ngueeenggg...! Wusss...!"

Entah berapa speed ambulance waktu itu, yang jelas sepertinya tercepat selama saya nyetir mobil. Mujahidin di kursi depan menutup jendela dengan tubuh, melindungi posisi saya yang menyetir. Moncong AK-47 dia keluarkan sepanjang spion, sedangkan Mujahidin di belakang membuka pintu geser ambulance kemudian menjepitnya supaya ga tertutup dengan AK-47 nya yang siap tembak !

Tanpa tengak-tengok, terus saja mobil saya kebutkan mendekati tikungan dimana mobil sedan telah menunggu. Waktu hampir sampai, mobil saya pelankan karena sangat berbahaya menikung dengan kecepatan tinggi, tapi rupanya melihat laju ambulance agak melambat sang komandan menyeru lagi ..

"YAllah ! Ngapain brenti ?! Injak gas ! Injak gas !"

Ya, sudahlah, karena patuh pada komandan saya tekan gas lagi sedalam-dalamnya, terserah mau kejadian apa nanti !

Begitu lewati, saya liat mobil sedan itu diparkir di pinggir jalan dan sang komandan sedang membidik sesuatu di depannya dari balik kap mesin mobil !

Baru beberapa puluh meter melewati sedan, Mujahidin di belakang saya meminta memberhentikan mobil kemudian loncat ke belakang, merunduk dan menyiapkan posisi tembak sambil matanya mengawasi kejauhan. Rupanya dia gantian dengan sang komandan yang segera menaiki mobilnya lagi dan menyusul kami.

Begitu kedua mobil berdampingan, sang komandan tanpa turun dari kursi supir berteriak supaya injak gas lagi ! kali ini beliau mengambil posisi di belakang ambulance, Mujahidin yang tadinya bersama kami, sekarang duduk bersama beliau dengan kepala dan senjata dikeluarkan siap menembak ke belakang !

10 km kemudian, kami menjumpai pos penjagaan pasukan Jabhah Islamiyah

Alhamdulillah ...

Fathi Attamimy - Halab, Suriah

UNTUK AMAL dan DAKWAH, SEBARKAN TULISAN INI..!!

0 Komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Artikel Terkini

Popular Post

 

Support : Peta Blog | Donasi | Tentang
Copyright © 2013. Revolusi Suriah
All Rights Reserved

Template Created by Creating Website
Edited by Hanzhalah wa-Qaashiraat
Proudly powered by Blogger


Flag Counter